Ads Top

Istrimu Bisa Memberi Saran


Persoalan pelik melilit Umar bin al-Khaththab. Istrinya mengetahuinya dan menyarankan  Umar sebaiknya melakukan sejumlah hal untuk menyelesaikan masalahnya. Mendengar perkataan istrinya, Umar langsung marah dan berkata, Apa urusanmu? Apa hakmu mencampuri urusanku?

Sang istri tak mau kalah. Aku heran terhadapmu, putra al-Khaththab. Engkau tidak mau dibantah padahal putrimu telah membantah Rasulullah hingga membuatnya marah seharian. Umar memutuskan tak lagi membantah perkataan istrinya. Ia keluar rumah dan melangkahkan kakinya ke rumah putrinya, Hafshah.

Langsung saja ia bertanya kepada Hafshah apakah benar dia membantah Rasulullah sehingga marah seharian. Anak perempuannya itu membenarkan bahwa dia telah membantah Rasul. Tak lama berselang, Umar mengatakan, ia selalu mengkhawatirkan putrinya dari kemarahan Allah SWT dan Rasulullah.

Ia menasihati Hafshah agar tak cemburu pada perempuan yang lebih dicintai Rasulullah, yaitu Aisyah. Nasihat yang sama ia ucapkan kepada Ummu Salamah. Dan Ummu Salamah menimpali, Aku heran terhadapmu, putra al-Khaththab. Apakah kamu ingin mencampuri segala hal sampai urusan rumah tangga Rasul dan istrinya?

Jawaban itu menohoknya. Ia tak bergegas pulang, tapi pergi menemui Muhammad SAW. Ia menguraikan semua yang dikatakan Ummu Salamah. Rasulullah hanya tersenyum mendengarkan apa yang diceritakan Umar. Abd al-Qadir Mansur, guru besar ilmu Alquran, mengatakan, seorang istri tak masalah memberi saran dan berargumen.

Bahkan, melalui bukunya, Buku Pintar Fikih Wanita, Mansur menuturkan, meminta pendapat istri tentang berbagai masalah soal perempuan atau masalah yang melibatkan pengalaman perempuan sangat dianjurkan. Ini dikuatkan oleh Surah al-Syura ayat 38, Sedangkan urusan mereka diputuskan melalui musyawarah di antara mereka.
Mansur menguatkannya dengan hadis Bukhari yang diriwayatkan Ummu Salamah. Pada suatu peristiwa, setelah disepakati perjanjian damai dengan Quraiys, Rasul meminta para sahabatnya yang saat itu urung berziarah ke Makkah meminta mereka menyembelih unta yang mereka bawa. Sayang, mereka tak menyambut antusias.

Rasul meminta hingga tiga kali, tetapi mereka tetap saja tak menggubris. Rasul akhirnya melangkah ke tenda Ummu Salamah yang waktu itu merupakan bagian dari rombongan. Ummu Salamah memberi saran agar Rasulullah segera keluar dan menyembelih unta. Tak menunggu lama, para sahabat mengikutinya.

Syekh Muhammad al-Ghazali mengatakan, jika rumah tangga dapat diibaratkan sebagai lembaga pendidikan atau perseroan, harus ada yang memimpinnya, yaitu suami. Tapi, ia mengingatkan, kepemimpinan itu tidak boleh kosong dari musyawarah, saling memahami, berbeda pendapat, dan pencarian tulus yang berujung pada kemaslahatan.

Semua itu merupakan undang-undang yang berlaku dalam urusan kehidupan. Dan tentu saja seharusnya berlaku pula dalam urusan rumah tangga. Suami memberi peluang bagi istrinya berpendapat dalam sebuah musyawarah untuk menuntaskan permasalahan yang mereka hadapi.

Dalam bukunya, Mulai dari Rumah, al-Ghazali  juga mengutip Surah al-Syura ayat 38. Firman ini diturunkan di Makkah sebelum di kota tersebut ada urusan kemiliteran dan perundang-undangan. Secara umum, ungkap dia, ayat ke-38 itu mencakup urusan keluarga dan masyarakat.

Menurut al-Ghazali, cendekiawan Muslim, Profesor Ahmad Musa Salim, menjelaskan bahwa kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga tak lebih karena mereka yang memikul tugas-tugas pokok dan usaha memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan demikian, laki-laki harus memegang putusan final setelah melalui proses musyawarah.

Dalam konteks ini, istri berhak menarik persetujuan atas sikap akhir suaminya jika menyimpang dan bertentangan dengan syariat. Sang istri pun berhak tak mengikuti pandangan suaminya kalau memang tak sesuai hukum agama. Ini artinya, kata al-Ghazali, kepemimpinan laki-laki tak mengizinkannya untuk memaksakan kehendak.

[rol]

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.